No Title
(part 1)
Di waktu peraduan umat manusia kepada Tuhannya. Di sela-sela tembok kokoh namun rapuh serapuh-rapuhnya. Aku tulis tulisan ini. Bukan untuk diriku, bukan pula untuk dirimu. Lalu untuk siapa? Untuk membersihkan waktu yang lalu kah? Untuk mengotori masa depanmu yang suci?A Ataukeduanya? Aku masih tak tahu. Yang ku tahu kala itu, aku menemukan diriku, pada sebuah pohon tumbuh menjulang, paling tinggi diantara pohon-pohon lain, Namun paling gersang, segersang air ditungku yang tak kunjung kau angkat dari perapian. Yang sebagiannya menguap, sisanya meresap di sela-sela besi panas itu.
Tapi kau dan aku sama-sama tahu, kemarau akan berlalu. Air kan membasahi setiap jengkal tanah diatas akarnya, menghidupkannya, sekali lagi. Lalu waktu berlalu, aku dan kau juga tahu, penghujan tak pernah abadi. Kita pun bertanya ; kemana perginya semua air ini? Kali ini, hanya aku yang tahu. Sebuah pohon yang tinggi menjulang, dimana rimbunnya dengan congkak menghalangi sinar mentari yang dijatah kepada pohon-pohon disampingnya. Aku menatapnya curiga
Ku dekati pohon itu, semakin dekat semakin aku sadar. Aku mengenalnya, dasar tidak tahu diri. Dalam hati aku bertanya, sampai kapan kau akan hidup? Ejekku sinis. Sampai angin timur menyapu awan mendung? Mengganti kehidupan dan harapan menjadi keputusasaan? Semakin dekat aku melihatnya, sangat dekat sampai akhirnya yang kulihat hanyalah, aku. Lalu kulihat ke arahmu, kau menjauh, sejauh air membawamu, sangat jauh. Tapi kau masih terlihat jelas dimataku, sangat jelas, sejelas mengamatimu duduk di beranda dari ruang tengah kita. Hingga tak dapat kubedakan apakah kaca atau pegunungan tinggi yang memisahkan kita . Yang kutahu hanya satu, aku hidup, dan kau menghidupi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar